SEJARAH Menggali Kepindahan Ibu Kota Sukapura Dari Sukaraja ke Manonjaya

Galuh Timur Bergabung, Wiradadaha 8 Wafat

Masih dikutip dari Sejarah Sukapura II karya Almarhum R. Sulaeman Annggapraja sebagai Sesepuh Kumpulan Wargi Sukapura (KWS) Cabang Garut tahun 1976, penyebab pindahnya Ibu Kota Sukapura, Sukaraja ke Manonjaya dipengaruhi pula karena digabungkanya wilayah Galuh Timur meliputi Pasir Panjang (Manonjaya-Cimaragas), Banjar, Pangandaran, Cikembulan, Parigi sampai ke Kabupaten Sukapura oleh Gubernur Residen Priangan di Cianjur.

Hal itu agar rakyat Sukapura bertambah banyak dari 1000 keluarga menjadi 4000 ribu keluarga.

Galuh Timur dipimpin Raden Tumenggung Aria Danuningrat (Raden Tanuwangsa, adik Raden Jaya Anggadipa atau Bupati Sukapura, Wiradadaha ke-8) sebagai Wakil Bupati Galuh Timur yang saat itu masuk wilayah Kabupaten Sumedang.

Pengangkatan menjadi Tumenggung (Wakil Bupati) pun karena prestasi Tanuwangsa dalam mendirikan Gudang Garam di Banjar dan Pangandaran atas perintah Bupati Sumedang, Pangeran Kusumah Yuda. Sehingga tanah Galuh dibawah kekuasaan Sumedang meliputi Pasir Panjang, Banjar, Kawasen, Kalipucang, Cikembulan dan Parigi diserahkan ke Tanuwangsa atau disebut Raden Aria Danuningrat.

Pelantikan Tanuwangsa menjadi Tumenggung terjadi tahun 1832 diera Keresidenan Priangan, Hollenberg yang berkedudukan di Cianjur.

Di Galuh Timur juga pertama kali dikenal Hari Pasar yang dalam dua kali seminggu ada istilah pasar rabu dan sabtu, sehingga wilayah tersebut (kala itu Pasir Panjang) banyak didatangi para pedagang dari Singaparna, Garut, Ciamis, Tawang (Tasikmalaya). Termasuk dari Tegal, Cirebon, Ciamis dan Singaparna yang memilih menetap.

Selang satu tahun sekira 1833, Bupati Sumedang, Pangeran Kusumah Yuda meninggal dunia. Kemudian di Sukapura yang Bupatinya Raden Jaya Anggadipa diangkat menjadi Adipati (Wakil Residen Wilayah Otonom Priangan). Ketika pelantikan, Raden Tumenggung Danuningrat pun harus hadir di Sukapura sebagai simbol bergabungnya Galuh Timur ke Sukapura.

Danuningrat juga lebih senang menjadi bawahan Sukapura dibanding Sumedang, karena Bupati Sukapura sebagai kakak sendiri yang tentunya secara keluarga bisa bertemu tiap hari setelah sekian tahun berpisah.

“Aduhai adikku. Tak terperikan kegembiraan kanda bisa bertemu lagi dengan adinda. Adikku seorang jantan, sungguh besar pengorbanan adinda. Bertahun-tahun adinda sengsara dan menderita karena membela tanah pusaka, sehingga terbang ke rantau orang. Sekarang adinda telah kembali sambil membawa tanah Galuh karena pengorbanan adinda ke kanda bisa menjabat warisan leluhur kita. Amat besar hutang budi kanda pada adinda,” ujar Jaya Anggadipa saat menyambut kedatangan adiknya, Danuningrat di Sukaraja.

Jaya Anggadipa pun menganggap jabatan Adipati sebagai simbol semata karena yang paling berhak mendapat gelar itu harusnya Danuningrat.

“Jika ada diantara keturunan kanda (Jaya Anggadipa) yang beritikad buruk kepada keturunan adinda (Danuningrat), semoga kutuk Allah ditimpakan kepadanya,” demikian Sumpah Jaya Anggadipa disaksikan Danuningrat. Kemudian keduanya menyiramkan air ke bumi sebagai simbol kesucian hati.

Dan di hari pelantikan, Kontrolir dari Residen Priangan, Van Dek membacakan surat keputusan tetang digabungnya daerah Galuh ke Kabupaten Sukapura, sehingga Galuh lepas dari kekuasaan Sumedang, menjadi kekuasaan Sukapura.

Tidak Melepaskan Diri

Kepindahan Ibu Kota Sukapura dari Sukaraja ke Manonjaya memang banyak hal yang mempengaruhi. Selain karena wilayah Sukaraja mulai padat oleh rumah penduduk sehingga pusat pemerintahan begitu ramai, Joglo (sekarang Pendopo) mulai lapuk dan kalau dibangun harus memakai tanah pesawahan, juga karena faktor politik atas digabungnya tanah Galuh Timur (Pasir Panjang, Cimaragas, Banjar, Kalipucang, Pangandaran, Parigi sampai Cijulang) ke Sukapura.

Masih menurut Sejarah Sukapura jilid dua karya (Alm) R. Sulaeman Anggapradja, faktor penting dipindahnya pusat Ibu Kota ke Manonjaya agar tanah Galuh yang sudah menjadi kekuasaan Sukapura tidak melepaskan diri.

Kalau pusat pemerintahan dekat, rakyat Galuh pun akan terkelola dan terperhatikan dengan baik sehingga tidak merasa dibawahi Sukapura.

Atas saran Patih (Wakil Bupati) Sukapura, Danuningrat (Raden Tanuwangsa, Ibu Kota Sukapura sebaiknya dipindahkan. Danuningrat mengusulkan ke kakanya yang juga Bupati, suatu daerah hutan luas dan datar yang bisa dibuka menjadi kota baru. Daerah tersebut adalah Tembong Gunung-Kalimanggis (Manonjaya sekarang) yang sebagian tanah bisa dijadikan pesawahan dengan mengambil sumber air dari Tawang Sungai Cimulu dan Cisoleh.

Selain itu tersedianya Gudang Nila dan Kopi di Banjar yang tidak jauh dari laut menjadiian Kalipucang untuk dibangun pelabuhan. Dibabatlah hutan Tembong Gunung itu yang sebelumnya dilakukan pengusiran terhadap dedemit, setan, siluman dan onom oleh Haji Abdullah dan Haji As’ad dari Sukaraja.

Kemudian sesuai rencana tata ruang kota, setiap sudut tanah untuk Alun-alun ditanami pohon beringin, termasuk membuat saluran air untuk pesawahan, pasar dan kolam-kolam yang sudah ada ikannya mulai ikan mas, tawes dan gurame, serta bangunan untuk pemerintahan.

Pembangunan kota selesai sekira tahun 1834, lalu ditinjau langsung Bupati Sukapura. Ia begitu takjub lalu menamai daerah tersebut dengan sebutan “Harjawinangun” yang artinya daerah subur, gemah ripah yang bisa dirasakan rakyatnya.

Sejak itupula Ibu Kota Sukapura resmi berkedudukan di Harjawinangun (sekarang Manonjaya) dengan memiliki dua patih atau wakil bupati yakni Raden Danuningrat menguasai dan mengurus Sukapura bagian Timur (yang berasal dari Galuh) dan Raden Demang Brajanagara khusus menguasai dan mengurus Sukapura barat atau yang berasal dari Sukapura.

Adipati Wiradadaha ke-8 Wafat

Perjalanan pemerintahan Sukapura di Harjawinangun terus berjalan. Meski mulai ada jaksa yang disuap pencuri yang akhirnya dibuang ke Pelabuhan Ratu Sukabumi.

Namun sekira tahun 1837 atau bulan Muharam 1253 Hijriah, Bupati Sukapura, Raden Kangjeng Adipati Wiradadaha ke-8 wafat setelah memimpin Sukapura selama 30 tahun. Jenazahnya dikebumikan di Tanjungmalaya atau sebelah selatan Manonjaya (Sekarang menjadi Pemakaman Bupati dan keluarga Sukapura).

Kemudian di tahun itupula atas usul Gubernur Residen Priangan yang berkedudukan di Cianjur, Raden Tumenggung Danuningrat (Wakil Bupati sekaligus Adik Wiradadaha ke-8) diangkat menjadi Bupati melanjutkan kepemimpinan kakanya dan nama Raden Tumenggung Danuningrat diganti menjadi Raden Tumenggung Wiratanubaya.

Puncaknya tahun 1839 dengan keputusan Gubernur Jenderal di Batavia, nama Harjawinangun diubah menjadi “Manonjaya” lewat surat keputusan (besluit/lembar negara) nomor 2, tanggal 10 Januari 1839.

Pada masa pemerintahan Sukapura di Manonjaya itulah, Gubernur Jenderal Belanda memberlakukan kewajiban Pajak se-Keresidenan Priangan.

Pertemuan dengan Gubernur Jenderal Hindia Belanda dilakukan di Bandung yang dihadiri Bupati Cianjur, Raden Tumenggung Kusumahdiningrat, Bupati Bandung, Raden Wiranatakusumah III, Bupati Sumedang, Pangeran Suria Kusuma Adi Nata I, Bupati Limbangan, Raden Tumenggung Suria Nata Kusumah dan Bupati Sukapura, Raden Tumenggung Wiratanubaya atau sebelumnya disebut Raden Tumenggung Danuningrat atau Raden Tanuwangsa.

Selain pajak, diharuskan juga menanam Nila di Sawah yang dekat perkampungan. Namun, Bupati Sukapura, Raden Tumenggung Wiratanubaya merasa keberatan karena sawah dan rakyat Sukapura sedikit dibanding dengan sawah dan rakyat Kabupaten lain. Yang akhirnya tanam nila tersebut tidak diwajibkan di Sukapura.

Bupati Sukapura ke-9 ini meninggal dunia pada 4 Januari 1844 dan dimakamkam di Tanjungmalaya Manonjaya setelah memimpin selama enam tahun. Diantara peninggalan yang masih bisa dirasakan sampai sekarang adalah Alun-alun Manonjaya dan Kaum atau Masjid Agung Manonjaya.

Masjid tersebut pertama kali dibangun di era Raden Tumenggung Wiratanubaya atau Raden Tumenggung Danuningrat atau Raden Tanuwangsa sekira tahun 1837, yang diperluas oleh Raden Tumenggung Arya Wirahadingrat tahun 1889 sebagai Bupati Sukapura ke-12.

Pemerintahan Sukapura yang berpusat di Manonjaya pun belangsung sejak 1834 sampai 1901 atau sekira 67 tahunan karena setelah itu pindah ke Tasikmalaya atau Kota Tasikmalaya sekarang.*

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan